Pekanbaru (PWMRIAU.OR.ID) — Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) IV Muhammadiyah Riau resmi berakhir. Dua hari bermusyawarah, Sabtu–Ahad, 8–9 Agustus 2026, bukan sekadar menjadi ruang menyampaikan laporan dan tanggapan, tetapi juga melahirkan sejumlah agenda strategis yang akan menjadi arah gerak Muhammadiyah Riau ke depan.
Digelar di Aula Lantai 3 Kampus Utama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Musypimwil IV mempertemukan jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau, PDM se-Riau, Organisasi Otonom, serta perwakilan Majelis dan Lembaga PWM Riau. Forum ini menjadi momentum penting untuk menyatukan persepsi, memperkuat konsolidasi, sekaligus memastikan program Persyarikatan berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Bukan Sekadar Musyawarah, Ada Agenda Besar yang Harus Dituntaskan
Sejak awal, Musypimwil IV diisi dengan agenda yang berkaitan langsung dengan penguatan Persyarikatan. Setelah pembukaan, laporan panitia, pengesahan tata tertib, dan penyampaian kebijakan strategis PWM Riau, peserta mengikuti berbagai materi dan sosialisasi yang menyentuh sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, digitalisasi organisasi, hingga persiapan Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan.
Pembahasan kemudian mengerucut pada sejumlah program yang dinilai strategis untuk segera ditindaklanjuti. Mulai dari pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Riau, pengembangan jejaring klinik Muhammadiyah di daerah, pengiriman mahasiswa melalui PPUTM, percepatan digitalisasi organisasi melalui SatuMu, hingga penguatan BUMM sebagai pilar ekonomi Persyarikatan.
Hasil Musypimwil IV Muhammadiyah Riau menetapkan tujuh agenda unggulan dan strategis yang menjadi perhatian bersama, yaitu pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Riau, pendirian dan pengembangan jejaring Klinik Muhammadiyah se-Riau, pengiriman mahasiswa melalui PPUTM, percepatan aktivasi Agen dan Verifikator SatuMu pada tingkat PCM dan PRM se-Riau, pendirian BUMM sebagai pilar ekonomi Persyarikatan, penguatan Tim Sukses Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan mobilisasi penggembira dari Riau, serta pengembangan Simpul Pascasarjana UMRI.
Ketujuh agenda tersebut menunjukkan arah penguatan Muhammadiyah Riau yang tidak hanya bertumpu pada konsolidasi organisasi, tetapi juga menyentuh kebutuhan nyata Persyarikatan: layanan kesehatan, pendidikan, transformasi digital, kemandirian ekonomi, serta penguatan jejaring dan kaderisasi.
Dari Perbedaan Pendapat Menuju Kesatuan Persepsi
Selain membahas program, Musypimwil juga menjadi ruang untuk menyampaikan laporan dan tanggapan PDM, Organisasi Otonom, serta PWM. Dinamika tersebut menjadi bagian penting dari proses musyawarah untuk membangun kesamaan pandangan dalam menjalankan amanah Persyarikatan.
Pesan tersebut kembali ditegaskan dalam penutupan Musypimwil oleh Prof. Dr. H. M. Nazir, MA., Wakil Ketua PWM Riau sekaligus Ketua BPH UMRI.
“Alhamdulillah, rangkaian Musypimwil IV Muhammadiyah Riau telah kita lalui dengan baik dan lancar. Semoga program unggulan dan strategis yang telah kita tetapkan dapat berjalan sesuai dengan ikhtiar yang kita lakukan. Mudah-mudahan seluruh ikhtiar kita ini menjadi amal saleh bagi kita semua. Apa yang telah kita putuskan hari ini, insyaallah segera kita tanfidzkan dan kita jalankan,” ujar Nazir.
Menurutnya, seluruh proses musyawarah selama dua hari merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk memajukan Persyarikatan Muhammadiyah di Riau dan menjadi ladang amal bagi seluruh pimpinan.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam musyawarah merupakan bagian dari proses organisasi yang harus disikapi secara bijaksana.
“Bagaimanapun perjalanan musyawarah dengan berbagai pendapat yang berbeda tentu harus kita sikapi dengan bijaksana demi menyatukan persepsi dan visi kita semua sebagai pengemban amanah pimpinan di Persyarikatan,” tegasnya.
Setelah Musyawarah, Saatnya Bergerak
Musypimwil IV akhirnya ditutup secara resmi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Namun, berakhirnya forum musyawarah justru menjadi awal dari pekerjaan berikutnya: memastikan keputusan yang telah disepakati benar-benar dilaksanakan.
Tujuh agenda strategis yang telah dirumuskan kini menjadi tanggung jawab bersama untuk ditindaklanjuti. Harapannya, hasil Musypimwil tidak berhenti sebagai dokumen keputusan, tetapi menjadi gerakan nyata yang memperkuat Persyarikatan dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat Riau.
Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan, keputusan Musypimwil akan segera ditanfidzkan dan dijalankan. Musyawarah telah selesai, saatnya Muhammadiyah Riau bergerak bersama mewujudkan keputusan menjadi kerja nyata. (*Fjr/Adm)